Memaknai Ulang KESUKSESAN


Sukses, sebuah kata singkat yang sangat banyak makna dan menjadi keinginan banyak orang saat ini. Sehingga banyak orang akan melakukan berbagai cara untuk dapat meraih kesuksesan tersebut. Ada yang berusaha mendapatkannya dengan menempuh pendidikan formal yang tinggi dan ada yang berusaha mendapatkannya secara singkat melalui cara-cara yang melanggar norma dan agama. Begitulah sukses, ibarat manusia yang berusaha menangkap burung, bisa namun sangat susah. Dibutuhkan strategi, teknik, cara, pengorbanan dan sebagainya.

Ketika seseorang meraih suatu pencapaian dalam hidupnya, misalnya dalam hal jabatan, beberapa orang menilai dia sudah sukses. Penilaian itu muncul dengan membandingkan kondisi yang di alaminya sebelum pencapaian dan kondisi yang di alaminya setelah pencapaian tersebut.

Dan bagi seseorang yang sudah meraih pencapaian itu, dia juga akan menilai orang yang tidak mendapat pencapaian seperti dirinya adalah orang yang belum sukses. Sebegitu gampangkah mengukur kesuksesan?!

Walaupun sukses menjadi keinginan banyak orang, -bahkan semua orang-, tapi setiap orang memiliki pengertian yang berbeda-beda dalam memahami makna sukses itu sendiri. Ada sebagian orang memaknainya adalah KEKAYAAN. Kelompok ini umumnya mencurahkan hidupnya untuk menumpuk harta. Mereka melihat uang sebagai simbol kesuksesan. Itulah sebabnya mereka menjadi serakah dan amat mendewakan uang.

Uang menjadi oksigen yang mutlak diperlukan bagi kehidupan mereka. Sayangnya orang-orang seperti ini hidupnya hampa. Mereka umumnya cepat curiga terhadap orang lain. Amat sulit bagi mereka untuk berpikir positif terhadap orang lain. Kalau ada yang mencoba dekat, mereka lantas berpikir, "Jangan - jangan orang ini mau mengambil harta saya." Seorang Mahaguru Kebijaksanaan pernah berkata orang yang menomorsatukan harta tidak akan menemukan arti hidup yang sejati. "Sebab di mana hartanya berada, di situlah pula hatinya
berada," demikian nasihat Sang Mahaguru.

Saya tidak memungkiri bahwa kekayaan "khususnya uang" penting bagi hidup. Siapa sih yang tidak butuh uang? Sebuah lembaga keagamaan dan lembaga sosial pun butuh uang untuk kegiatan operasionalnya. Mana bisa kita mendirikan tempat ibadah tanpa uang yang merupakan sumbangan dari orang lain? Uang memang penting tapi uang bukan segalanya. Uang adalah sarana untuk membuat hidup kita makin berarti.

Selain kekayaan, ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenangan hidup. Kelompok ini tidak suka macam - macam. Sebagian bahkan cenderung pasif dan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat. Sikap seperti ini juga merupakan sebuah pilihan dan kita tidak bisa mengatakan itu keliru.

Ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenaran. Mereka rela menempuh jalan panjang yang menanjak demi popularitas. Terkadang perjalanan panjang ini sangat melelahkan sehingga beberapa memilih jalan pintas dengan mempraktekkan cara - cara kurang terpuji, seperti (maaf) menjual diri.

Paham bahwa kesuksesan identik dengan ketenaran biasanya hanya terbukti kebenarannya pada tahap awal. Lambat laun, seiring makin meningkat popularitas, banyak hal-hal tertentu terjadi yang pada akhirnya membuat seorang tokoh publik (public figure) terpaksa menolak paham ini. Misalnya dengan hilangnya privacy yang bersangkutan karena setiap gerak - geriknya senantiasa diawasi masyarakat lewat pers. Terkadang saya sendiri amat iba melihat bagaimana kehidupan seorang artis "diobok - obok" secara berlebihan oleh media massa. Pihak media selalu mengatakan bahwa apa yang disajikannya adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu pembaca atau penonton. Mungkin ada benarnya juga. Yang pasti, jelaslah sudah bahwa kesuksesan tidak identik dengan ketenaran.

Selanjutnya ada juga yang mendefiniskan kesuksesan dengan kesehatan yang prima. Terhadap definisi ini terkadang saya mengajukan pertanyaan reflektif, bukankah ada begitu banyak orang dengan kesehatan yang amat prima namun hidupnya kosong? Mereka sama sekali tidak berkarya dan berusaha menjadikan hidupnya lebih berarti.

Jadi, apa makna SUKSES itu sebenarnya?! Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca ada delapan cakupan yang harus dimiliki dalam kehidupan ini untuk bisa dikatakan SUKSES, yaitu KEBAHAGIAN, KESEHATAN, KEUANGAN, KEAMANAN, KUALITAS PERSAHABATAN, HUBUNGAN KELUARGA YANG BAIK, PENGHARAPAN MASA DEPAN dan KEDAMAIAN PIKIRAN.

Karena terlalu banyaknya standarisasi SUKSES bagi setiap orang, maka kita perlu memaknai ulang apa itu SUKSES. Kenapa demikian? Karena ita tidak akan pernah bisa mengukur angka kebahagian untuk dikatakan SUKSES. Kita tidak akan pernah bisa mengukur seberapa sehat kita seharusnya untuk mengatakan SUKSES. Kita tidak akan pernah bisa mengukur berapa uang yang harus di dapat untuk dikatakan SUKSES. Kita tidak akan pernah bisa mengukur seberapa damai pikiran kita agar bisa dikatakan SUKSES, dan sebagainya.

Delapan cakupan tersebut semuanya adalah sesuatu hal yang tak terbatas, ditambah lagi bahwa manusia tidak akan pernah bisa merasa puas terhadap pencapaian-pencapaiannya.

Menurut saya, sukses bukanlah sebuah tujuan hidup karena kita tidak bisa mengukur dimana titik tujuan itu. Tapi sukses adalah sebuah perjalanan hidup. Jika kita telah berhasil meraih sebuah impian, kita toh tetap harus meneruskan perjalanan. Selama kita masih dalam perjalanan, maka selama itu pulalah kita akan berusaha mendapatkan SUKSES tersebut.

Dan ketika kita belum meraih pencapaian SUKSES, toh itu juga bukan berarti kita bisa dikatakan gagal. Karena yang namanya sebuah perjalanan hidup itu bisa sangat pendek, bisa panjang dan tidak diketahui kapan akhirnya. Kalau ternyata pada Kilometer 26 kita belum mendapatkan pencapaian, mungkin pencapaian sukses itu akan kita dapatkan di Kilometer 29, atau Kilometer 32, atau Kilometer 40 atau di kilometer lainnya.

Dan akhirnya, yang dapat kita yakini bersama adalah bahwa perjalanan hidup itu akhirnya adalah disaat kita menutup mata dan kembali kehadirat-Nya. Dan sebagai manusia, kita tidak pernah tahu kapan waktu itu datang. Sehingga yang hanya dapat kita lakukan saat ini hanyalah terus menempuh perjalanan dengan benar dan menghargai setiap proses yang dialami dalam perjalanan itu.

READ MORE - Memaknai Ulang KESUKSESAN

Father And Son (Ronan Keating & Yusuf Islam)

Father And Son
Father:
It's not time to make a change
Just relax take it easy
You're still young that's your fault
There's so much you have to know
Find a girl, settle down
If you want, you can marry
Look at me I am old
But I'm happy

I was once like you are now
And I know that it's not easy
To become when you've found
Something going on
But take your time think a lot
Think of everthing you've got
For you will still be here tomorrow
But your dreams may not...

Son:
How can I try to explain?
When I do it turns away again
And it's always been the same
Same old story

From the moment I could talk
I was ordered to listen
Now there's a way, and I know
That I have to go away
I know, I have to go...

Father:
I was once like you are now
And I know that it's not easy
To become when you've found
Something going on
But take your time think a lot
Think of everthing you've got
For you will still be here tomorrow
But your dreams may not...

Son:
All the times, that I've cried
Keeping all the things I knew inside
And it's hard
But it's harder to ignore it
If they were right I'd agree
But it's them they know
Not me That I have to go away
I know, I have to go...

Ok, I have to go.

--------------------------------------------------------
Tidak ada catatan yang ingin saya tulis tentang lagu ini, hanya sekedar ingin berkontempelasi dengan lirik-liriknya yang sarat makna. Semoga selalu tercerahkan
READ MORE - Father And Son (Ronan Keating & Yusuf Islam)

Mengendalikan Diri


Pertama adalah mengendalikan diri dengan menggunakan prinsip kemoralan. Setiap agama pasti mengajarkan kemoralan, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila. Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, coba larikan ke rambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama?

Misalnya kita mendapat kesempatan untuk mendapat untung dengan cara yang tidak wajar. Bahasa yang lebih langsung adalah kesempatan untuk korupsi. Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral di atas. Agama mengajarkan kita untuk tidak mencuri atau mengambil barang yang bukan milik kita, tanpa seijin pemiliknya. Kalau kita teguh dengan prinsip moral ini maka kita tidak akan mau korupsi. Korupsi itu dosa. Korupsi itu karma buruk. Bisa masuk neraka lho.

Kedua adalah dengan menggunakan kesadaran. Kita sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul. Dengan demikian mereka langsung lumpuh dan dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka.

Misalnya seseorang menghina atau menyinggung kita. Kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini muncul. Kita akan tahu saat emosi ini mulai mencengkeram dan menguasai diri kita. Kita tahu saat kita akan melakukan tindakan ”bodoh” yang seharusnya tidak kita lakukan.

Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Kalau masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, larikan pikiran kita pada prinsip moral. Biasanya kita akan lebih mampu mengendalikan diri.

Bagaimana jika sudah melakukan jurus satu, prinsip moral, dan jurus dua, kesadaran, ternyata kita tetap sulit mengendalikan diri?

Lakukan yang Ketiga yaitu dengan perenungan. Saat kita sudah benar-benar nggak tahan, mau ”meledak” karena dikuasai emosi, saat kita mau marah besar, coba lakukan perenungan. Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan, misalnya, berikut ini:
- Apa sih untungnya saya marah?
- Apakah benar reaksi saya seperti ini?
- Mengapa saya marah ya? Apakah alasan saya marah ini sudah benar?

Dengan melakukan perenungan kerap kali maka kita akan mampu mengendalikan diri. Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana. Saat emosi aktif maka logika kita nggak akan jalan. Demikian pula sebaliknya. Jadi, saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan menurun.

Keempat adalah dengan menggunakan kesabaran. Emosi naik, turun, timbul, tenggelam, datang, dan pergi seperti halnya pikiran. Saat emosi bergejolak sadari bahwa ini hanya sementara. Usahakan tidak larut dalam emosi. Gunakan kesabaran, tunggu sampai emosi ini surut, baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab. Oh ya, tahukah anda bahwa kata bertanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility, yang bila kita pecah menjadi response-ability atau kemampuan memberikan respon? Kalau sudah menggunakan kesabaran masih juga belum bisa, bagaimana?

Kelima yaitu menyibukkan diri dengan pikiran atau aktivitas yang positif. Pikiran hanya bisa memikirkan satu hal dalam suatu saat. Ibarat layar bioskop, film yang ditampilkan hanya bisa satu film dalam suatu saat. Nah, film yang muncul di layar pikiran inilah yang mempengaruhi emosi dan persepsi kita. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka film di layar pikiran kita juga berubah. Dengan demikian pengaruh dari keinginan atau suatu emosi akan mereda.(dari berbagai sumber)

READ MORE - Mengendalikan Diri

Apakah Tuhan juga Menciptakan Kejahatan?


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan." Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya Bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?" Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah,Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya." Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah "Albert Einstein"
READ MORE - Apakah Tuhan juga Menciptakan Kejahatan?

Soekarno vs Hatta


Soekarno dan Hatta adalah dua pribadi berbeda yang berhasil disatukan alam. Keretakan mengemuka karena Hatta tak sepaham dengan konsep demokrasi terpimpinnya Soekarno

Gaya kepemimpinan Soekarno dan Mohammad Hatta seperti langit dan bumi. Soekarno bersikap bak mercusuar. "Dia itu insiyur artis dengan cita-cita politik yang tinggi," kata pengamat sosial Selo Soemardjan. Sebaliknya, Mohammad Hatta cenderung bersikap low profile dalam menyikapi gaya Soekarno. Perbedaan tadi lambat laun mengakar di antara mereka. Puncak keretakan kedua tokoh proklamator tak pelak mencuat pertengahan 1950. Buntutnya, putra kelahiran Bukit Tinggi 12 Agustus 1902 itu memilih mundur sebagai wakil presiden. Uniknya, persahabatan mereka tetap utuh sampai Bung Karno menghembuskan napas pada 1970.

Sebenarnya, jurang antara Soekarno dan Hatta terlihat sejak sama-sama menggalang kekuatan pada 1920. Kala itu, kedua putra Indonesia tersebut getol berjuang melawan Belanda dengan cara masing-masing. Hatta remaja yang tengah belajar di Belanda membentuk Perhimpunan Indonesia. Pada waktu bersamaan, Soekarno juga giat memperjuangkan lahirnya negara Indonesia. Prinsip perjuangan kelompok mereka pun berseberangan. Kendati begitu, hubungan individu Soekarno-Hatta sangat erat, meski terpisahkan jarak dan waktu.

Nama Soekarno-Hatta mengharum setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan 17 Agustus 1945. Dwitunggal ini pun berbagi tugas untuk mengangkat nama Indonesia di mata internasional. Bung Hatta yang piawai berdiplomasi ditugasi mengikuti konferensi tingkat dunia. Sementara Bung Karno tetap berperan sebagai penggelora semangat revolusi rakyat Indonesia.

Awalnya, perbedaan pribadi dan model kepemimpinan yang mencolok bukan menjadi masalah besar. Karena, "warna-warni" yang mereka miliki bisa saling mengisi untuk memperjuangan Indonesia Satu. Belakangan, kerikil-kerikil perpecahan menajam. Bahkan, Bung Hatta menilai perjuangan Soekarno semakin menyimpang dari tujuan kemerdekaan. Kenyataan yang dikhawatirkan Bangsa pun terjadi, saat Soekarno berkeras mencanangkan Demokrasi Terpimpin. Hatta menganggap sikap Presiden tadi sebagai perang terbuka. Ia balik menyerang dengan mengecam konsep Demokrasi Terpimpin. Di mata Hatta, Demokrasi Terpimpin adalah bentuk kediktatoran. "Pertempuran" tak kunjung padam. Puncaknya terjadi ketika Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden, 1956 atau tepat 11 tahun setelah proklamasi kemerdekaan. "In a good Minangkabau style, ya, saya mundur saja. Saya kasih kamu kesempatan karena semua pihak makan di sekitar kamu," kata wartawan senior Rosihan Anwar mengutip pernyataan Hatta.

Keputusan Hatta mengagetkan sejumlah kalangan. Mereka menyayangkan pilihan tersebut. Lembaga perwakilan rakyat yang ada pada saat itu sulit meredam emosi Hatta. Upaya mempertemukan Soekarno-Hatta juga kerap menemui jalan buntu. Akhirnya, mereka membiarkan kontroversi tersebut berlanjut. Hatta yang gusar terus melancarkan kritik dengan berbagai cara.

Anehnya, Soekarno tak pernah membantah serangan sahabat karibnya. Bung Karno hanya mengucapkan terima kasih atau sesekali menanyakan kapan mereka bisa bertemu. "Ruang pribadi mereka terjaga. Inilah uniknya karena secara politik bermusuhan, tapi pribadi tidak," kata sejarawan Taufik Abdullah. Sikap negarawan dan persahabatan pribadi di antara keduanyalah yang membuat mereka tak bermusuhan. Soekarno pernah melamar Rahmi Rachim untuk Hatta . Sedangkan Hatta pernah menjadi wali ketika Guntur Sukarnoputra menikah.

Sejak itu, episode pentas Dwitunggal berakhir. Bung Karno terus melenggang sampai jatuh dari tampuk kekuasaannya. Sementara Hatta berjuang dengan caranya sendiri, yaitu berbagi ilmu buat anak-anak didik dan keluarganya. Tetap dengan gaya khas Hatta yang sederhana dan membumi.
READ MORE - Soekarno vs Hatta

Hari Ini Milik Anda


Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa Anda inilah hari Anda.

Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dllahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan. Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, Anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu', bacaan al-Qur'an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Pada hari dimana Anda hidup saat inilah sebaiknya Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyakbanyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari dengan penuh keridhaan.

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian. Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda): Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda? Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?

Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat Anda, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan. Dan itu, akan membuat Anda berkata dalam hati, "Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku."

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur'an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya', dan buruk sangka. Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, "Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi." "Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan."

"Hari ini milik Anda", adalah ungkapan yang paling indah dalam "kamus kebahagiaan". Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.

dikutip dari Buku La Tahzan
READ MORE - Hari Ini Milik Anda
Prev
 

Selamat Datang dan Selamat Membaca

Kemampuan berpikir adalah anugrah yang luar biasa diberikan-Nya kepada ummat manusia. Namun, kesalahan dalam berpikir akan membawa manusia kepada sebuah jalan yang buntu dan sesat. Semoga kita semua tercerahkan!

Navigasi