Selasa, Desember 08, 2009

Memecahkan Misteri Kehidupan


Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say " Life is too short"
"The here and the now"
And " You`re only given one shot"
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we`ve got?

(spririt carries on - dream theater)


Sepenggal awal lirik lagu ini sebenarnya merupakan pertanyaan yang selalu ada di benak kita yang mau berpikir. Pertanyaan yang sering mengganggu setiap perjalanan kita, termasuk perjalanan hidup ini. Mungkin bisa juga disebut pertanyaan usil namun penting, karena hingga kini disaat ilmu pengetahuan sudah jauh berkembang belum ada sebuah konsensus secara berjamaah yang memutuskan jawabannya.

Ketika sudah tidak mampu lagi menterjemahkan sesuatu hal, maka kita akan menyebutnya dengan Misteri. Tapi banyak orang yang ketika dihadapkan dengan sebuah misteri maka dia akan takluk dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Yang muncul kemudian adalah sikap pasrah dengan kondisi yang ada, tidak mau berbuat apa-apa lagi karena merasa awal dan akhir sebuah kehidupan tidak mampu mereka ketahui. Lalu ketika sudah berhadapan dengan Misteri kehidupan, maka kita kemudian akan menjadi manusia yang tidak mampu melihat, mendengar dan membaca tanda-tanda kehidupan. Dan kita sebutlah ketidakberdayaan itu menjadi sebuah bentuk kebetulan. Padahal tidak ada yang kebetulan dari setiap kejadian yang kita alamani. Hanya karena ketidakmampuan kita menterjemahkan Misteri itu saja kita menyebutnya kebetulan. Lalu haruskah menyerah dengan keadaan ketidakmampuan menterjemahkan misteri kehidupan itu?!

Suatu ketika, saat seorang sahabat kehidupan berdialektika secara imajiner dengan dirinya sendiri, dan muncullah sebuah kesimpulan sederhana tentang kehidupan. Bahwa ada orang yang sudah berjuang dengan sekuat tenaga, berjalan pada sebuah lintasan kecerdasan dan melewati lorong keikhlasan, toh akhirnya ketika Sang Waktu membuka tabir misterinya berujung pada hasil kegagalan. Tapi ada orang yang hanya membutuhkan sedikit usaha tanpa tenaga, berjalan pada sebuah lintasan keberuntungan, dan melewati lorong keangkuhan namun Sang Waktu membuka tabir misterinya dengan sebuah kesuksesan. Lalu, adilkah itu?

Bagi sahabat kehidupan menganggap itu adalah ketidakadilan dan bentuk lain dari pendzoliman. Tapi bagi Misteri kehidupan, menganggap itu adalah sebuah bentuk keadilan. Bahkan keadilan paling hakiki sebenarnya. Karena Manusia Pejuang dan Manusia Beruntung juga tidak pernah tahu awal dan akhir dari sebuah misteri kehidupan. Mereka sama-sama bergerak dengan cara masing-masing tanpa juga saling mengetahui akhir dari perjalanan kehidupan mereka sendiri.

Yaaaaah,,, begitu lah realitas kehidupan sebenarnya. Tidak selamannya mereka-mereka yang menanam benih lalu kemudian juga akan menuai buahnya. Bisa saja buah itu matang disaat si penanam tidak ditempat. Atau bisa saja ada anak kecil yang kebetulan lewat lalu mencurinya. Atau bisa saja takdir menghendaki buah itu mati sebelum ia matang. Begitu juga pejuang pejuang kemerdekaan, mereka juga tidak pernah tahu apakah negara ini sudah merdeka atau belum disaat peluru kematian hinggap di tubuh mereka.

Tapi paling tidak,,, ada keindahan menjadi pejuang menaklukkan misteri kehidupan ini. Kita akan belajar bagaimana sebuah proses dari awal menuju akhir itu sendiri. Dalam proses menjalani awal dan akhir kehidupan itu kita akan banyak melihat, mendengar, dan membaca tanda-tanda kehidupan yang bagi banyak orang tidak mampu mereka terjemahkan. Dan dengan anugrah bisa melihat, mendengar dan membaca tanda kehidupan itu akan memudahkan kita melalui jalan kehidupan yang penuh misteri ini.

Keindahan lain dari menjadi pejuang kehidupan ini adalah kita akan melalui setiap proses dengan konsisten dan tidak terburu-buru. Sikap tidak konsisten dan buru-buru itu akan membawa kita menghilangkan banyak sekali keindahan dalam melalui proses kehidupan ini. Seperti saat kita mengendarai mobil dengan kencang, kita tidak akan mampu melihat keindahan pemandangan disisi kita. Banyak pelajaran tentang hidup yang bisa kita dapatkan dengan memperhatikan lingkungan disekitar kita, dan itu hanya bisa dilakukan tanpa buru-buru.

Kembali ke penggalan lirik lagu diatas,,, kita tidak pernah tahu bagaimana awal dan akhirnya kehidupan ini. Tiga pertanyaan usil tapi penting tentang kehidupan (dari mana kita sebelum lahir, mengapa kita ada disini dan kemana kita setelah mati nanti) menyimpan bagian-bagian gelap yang tidak mampu dipecahkan. Maka cara tercerdas yang harus dilakukan adalah terus berikhtiar dan berjuang memecahkan misteri kehidupan dengan menjadi Pejuang Kehidupan dan menikmati keindahan dari proses perjuangan itu. Seorang bijak pernah mengatakan bahwa keindahan itu adalah bahasanya Tuhan. Artinya jika kita sudah bisa melihat keindahan dari sebuah perjuangan, walaupun perjuangan itu berat maka sebenarnya kita sudah berkomunikasi dengan Tuhan kita, pemilik dari Misteri Kehidupan ini.

Aku ingin menjadi ombak yang akan terus bergerak dan
Aku ingin menjadi samudera yang mampu menampung segalanya



klik disini untuk melanjutkan

Selasa, Desember 01, 2009

Perjalanan Ke Dalam Hati


Hati adalah tempat bertanya. Hati adalah cermin. Apa yang kita lakukan terus-menerus akan berpengaruh dan berbekas pada hati. Hal-hal terpuji akan membuat hati mengkilap dan cemerlang. Sementara hal-hal tercela akan membentuk asap hitam kelam yang menumpuk sedikit demi sedikit dan membuat hati menjadi gelap-gulita.

Lama-lama hati yang gelap akan menebal dan terkunci. Ini menghalangi kita melihat kebenaran. Karena itu kita perlu membersihkan hati kita dari benih-benih penyakit hati. Ada tiga penyakit yang paling sering menghinggapi hati kita. Ini juga adalah tiga dosa paling awal sejak keberadaan manusia.

Pertama, sombong dan arogan.
Ini adalah penyakit iblis yang menolak ketika diperintahkan bersujud pada Adam. ''Ia diciptakan dari tanah, sedangkan aku dari api,'' ujar Iblis. Ini sikap rasialis seperti yang ditunjukkan oleh Hitler maupun rezim Apharteid di Afrika Selatan.

Tanpa sadar kita pun sering merasa lebih mulia dari orang lain semata-mata karena faktor SARA. Penyakit sombong sering muncul dalam bentuk merasa lebih penting, lebih tahu, lebih benar, dan lebih taat, dari orang lain. Perasaan paling tahu dan paling benar membuat kita menutup telinga. Kita tak merasa perlu mendengarkan orang lain. Kita justru sibuk memaksakan ''agenda'' kita pada orang lain.

Akar dari sombong adalah kebiasaan membanding-bandingkan diri kita (comparing) dengan orang lain. Membanding-bandingkan akan membuat kita terombang-ambing. Kita merasa super kalau berhadapan dengan orang yang ada di bawah kita, tapi ironisnya kita akan merasa rendah diri di saat yang sebaliknya. Padahal satu-satunya perbandingan yang baik adalah membandingkan diri Anda terhadap potensi Anda sendiri. 

Kedua, serakah.
Ini penyakit Adam yang tetap memakan pohon yang dilarang Tuhan. Padahal ada berjuta-juta pohon yang disediakan dan hanya satu pohon itu yang dilarang.

Akar serakah adalah scarcity mentality (mentalitas kelangkaan), yaitu perasaan bahwa segala sesuatu sangat terbatas, sehingga berprinsip 'Saya akan mengambil bagian saya dulu sebelum kehabisan.'

Orang serakah menganggap dunia seperti sepotong kue. ''Kalau Anda mendapatkan potongan besar, sisanya tinggal sedikit untuk saya.'' Karena itu, saya akan mengambilnya dulu. Semua persoalan yang kita hadapi di negara ini, baik KKN, upah minimum yang tak cukup untuk hidup layak, atau persoalan tarik-ulur otonomi daerah, sebenarnya berakar dari keserakahan, yaitu keinginan menguasai dan tiadanya keinginan untuk berbagi dengan pihak lain. 

Ketiga, penyakit iri dan dengki.
Ini penyakitnya Qabil yang merasa iri terhadap Habil yang mendapatkan istri lebih cantik. Akar penyakit ini adalah kecenderungan kita untuk selalu bersaing (competing) dengan orang lain. Kita memandang dunia sebagai medan pertempuran. Kita memandang setiap orang sebagai pesaing kita. Karena itu kita berjuang mengalahkan mereka. Kita ingin lebih pandai, lebih hebat, dan lebih populer. Kita berduka melihat orang lain sukses. Kita sedih melihat kawan naik pangkat. Kita pusing melihat tetangga membeli mobil baru. Orang yang bermental seperti ini tak perduli dengan prestasinya sendiri. Yang penting, ia lebih tinggi dari orang lain.

Bangsa kita dipenuhi manusia-manusia yang mengidap penyakit ini. Saya biasa menyingkatnya dengan AIDS (Arogan, Iri, Dengki, Serakah). Itu sebabnya masalah kita tak kunjung usai. Tapi daripada melihat orang lain, marilah kita melihat diri kita sendiri. Karena, bukan mustahil kita pun ''terinfeksi'' penyakit AIDS ini.

Jangan lupa, kepemimpinan selalu dimulai dari diri sendiri. Karena itu, mulai lah melakukan perjalanan ke dalam. Yaitu, menyelami hati kita masing-masing dan mendeteksi adanya benih-benih AIDS ini dalam hati kita.

Awalnya pasti sulit. Saya teringat kata-kata mantan Sekjen PBB, Dag Hammersjold, yang banyak melakukan perjalanan antarnegara dan antarbenua. ''Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan masuk ke dalam diri kita sendiri.''

(dari Embun Pagi-nya Hendry Risjawan/ Trainer Club Indonesia)
klik disini untuk melanjutkan

Senin, September 28, 2009

Sesuatu Yang Membuatmu Bertahan


Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Tuhan sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon.
Tuhan selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
Tuhan punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap... TUHAN TAHU

(dari berbagai sumber)
klik disini untuk melanjutkan

Jumat, September 04, 2009

Kasus Anggota DPR


Cerita ini terjadi di kalangan angota dewan yang terhormat, seorang anggota dewan pada suatu siang ditelepon oleh seorang perempuan.

Suara disana berkata: "selamat siang bapak anggota dewan", dari suarannya perempuan itu masih muda.
"siang",ini siapa yahh??".tanya anggota dewan itu

"saya Ane , yang pernah tidur bersama bapak waktu itu"

"hah???",terdengar penasaran

"klo bapak tidak ingin rahasia itu terbongkar bapak harus memberi saya uang tutup mulut",

"ok baiklah " jawab anggota dewan itu pasrah... 

Kemudian dia berpikir dimana dia pernah meniduri wanita tersebut. Beberapa hari kemudian si anggota dewan itu menyerahkan sejumlah uang di suatu tempat yang telah ditentukan. Tetapi setelah beberapa hari kemudian wanita itu menelepon lagi dan memintakan hal yang sama, dan anggota dewan yang terhormat itu mengabulkan lagi permintaannya tetap dengan penasaran. Setelah beberapa minggu kemudian wanita itu meminta lagi hal yang sama dengan ancaman yang sama. 

Akhirnya dengan pasrahnya anggota dewan tersebut mengabulkannya tetapi pada akhir pembicaraan si anggota dewan bertanya lagi ....
" ok lah, aku kabulkan tapi jangan bikin penasaran gitu dong. Saya cuman mo tanya emangnya kita pernah tidur bersama dimana??" 

wanita itu menjawab dg lembutnya:
"kita khan pernah tidur bersama pada waktu  Presiden membacakan pidatonya di GEDUNG DPR"

klik disini untuk melanjutkan
 

Banner Link

Blogger Bertuah

Recent Comment

Pojok Penulis

Selamat Datang dan Selamat Membaca!!! Kemampuan berpikir adalah anugrah yang luar biasa diberikan-Nya kepada ummat manusia. Namun, kesalahan dalam berpikir akan membawa manusia kepada sebuah jalan yang buntu dan sesat. Semoga kita semua tercerahkan! >> lihat profil lengkap <<

Copyright © 2008 by INTELEKTUAL KULDESAK | DENY RENDRA